Tuesday, 4 September 2018

AKU SAJA.



Neverland, 20 Mei 2018



Kala itu aku duduk sendirian di depan minimarket di dekat tempat tinggalku.


Kira-kira jam 10 malam.


Aku hanya membeli minuman dingin dan sebungkus roti dari minimarket itu, 
selebihnya aku hanya duduk menikmati angin malam, suara lalu-lalang kendaraan di jalan raya, minumanku dan sebungkus roti yang ku beli.


Aku merasa nyaman seperti ini.


Hanya ada aku.


Aku saja.


Seorang diri.


Menikmati apa yang aku ingin lakukan.


Malam menghembuskan dinginnya angin, entah mengapa itu malah menghangatkanku.


Ku rasa aku tak butuh siapa-siapa.


Hanya aku saja.


Cukup aku.

Friday, 28 July 2017

Kita yang Beda

Aku kira semua ini mudah tuk ku jalani.
Hanya ada tawa dan bahagia.
Nyatanya tidak.
Ada pula tangis dan sedih, ditambah luka dan perih.
Perih itu apa ? Adalah saat tak mudah menyatukan 2 hal yang berbeda, apalagi lebih dari 2 hal yang berbeda, misalnya kita.
Kita itu apa ? Adalah 2 orang yang memiliki banyak perbedaan.
Aku berusaha berjalan maju sedangkan kamu hanya berjalan di tempat.

Aku bagaikan 2 + 2 = 4 sedangkan kamu bagaikan soal logaritma.
Terus terang saja, aku sulit mengerti kamu sama hal nya dengan aku sulit mengerti Logaritma. Dan terus terang, aku tidak menyukai pelajaran matematika. Tidak seperti matematika, aku menyukaimu hanya saja aku sulit untuk memahamimu.

Kata orang, sebenarnya kunci keberhasilan suatu hubungan adalah dengan memahami pasangan nya. Berusaha saling mengisi satu sama lain. Memaklumi bahwa sifat manusia berbeda-beda dan memahami bahwa kita tidak bisa memaksakan kehendak kita sendiri terhadap pasangan kita. Tapi semua orang punya kelemahan bukan ? Aku pun punya. Aku sulit berdampingan dengan seseorang yang memiliki sifat berbanding terbalik dengan diriku, terlebih lagi dalam suatu hubungan.

Aku tidak menyalahkan mu atas sifat kita yang berbeda, karena sifat merupakan hal yang terbentuk sejak kita dilahirkan dan sifat itu sulit diubah. Oleh karena itu, baiknya kamu temukan seseorang yang mampu memahami dirimu sepenuhnya dan mampu membawamu ke sifat yang jauh lebih baik. Yang pasti aku bukanlah seseorang itu.

Aku tidak mau memaksakan kehendak ku padamu, karena sesuatu yang dipaksakan itu tidak permanen. Lagi pula itu akan menyakitkan untukmu, kamu dipaksa berubah tanpa kamu inginkan. Berubahlah jika kamu merasa kamu ingin berubah, berubahlah jika kamu merasa salah, berubahlah jika kamu sering mendapat kegagalan yang sama yang berulang kali terjadi dalam hidupmu. Jangan berubah hanya karena ingin menyenangkan orang lain tapi sebenarnya kamu merasa kamu tidak perlu berubah, karena itu hanya akan membuatmu dan orang lain itu menjadi tidak nyaman di kemudian hari dan perubahan mu menjadi sia-sia.
Dan pada akhirnya, bahagiamu bukan ada padaku, bahagiamu ada pada seseorang yang mampu memahamimu sepenuhnya. :)

Friday, 16 December 2016

Bahagia

Biar ku ingat lagi pertama kali kita bertemu, saling bertatap mata, dan jantungku berdegup kencang.
Biar ku ingat lagi masa-masa ketika kamu mendekatiku, mengirimkan pesan singkat selamat pagi, mengingatkan aku makan.
Biar ku ingat lagi hal-hal ketika kita bersama ;
Melihatmu memakai kaos oblong berwarna putih membuatmu terlihat semakin tampan.
Melihatmu mengendarai motor melalui derasnya hujan.
Melihatmu tertawa dengan lepas tanpa beban.
Melihat wajahmu dari samping ketika kita berjalan berdampingan.
Melihat garis senyummu yang mampu menenangkanku.
Melihat wajah khawatirmu ketika aku terluka.
Melihat betapa lucunya raut wajah kesalmu.

Biar ku ingat lagi caramu menjagaku ketika kita berada di tempat asing, meyakinkanku ketika aku ragu, menyemangatiku ketika aku lemah, caramu membuatku tertawa dengan hal-hal kecil.
Biar ku ingat lagi masa dimana kamu terpuruk dan kamu mendatangiku menyampaikan semua keluhmu padaku.
Biar ku ingat lagi kata-kata kita untuk selalu bersama apapun yang terjadi.
Biar ku ingat lagi masalah demi masalah yang mampu kita lewati bersama.

Dan biar ku ingat lagi caramu membohongiku, memarahiku, keras kepalamu.
Biar ku ingat lagi perlahan-lahan kita berjauhan.
Biar ku ingat lagi luka yang kamu tinggalkan untukku.
Biar ku ingat lagi rasa kecewa yang aku berikan padamu.
Biar ku ingat lagi bahagiamu setelah kita tidak bersama lagi.

Sekarang aku ingat semua itu dinamakan kenangan. Kenangan yang terjadi di masa lalu. Sayangnya aku hidup di masa sekarang bukan di masa lalu. Biarkan kenangan itu aku nikmati, agar ada alasanku untuk merindukanmu. Bagiku, merindumu adalah salah satu caraku untuk bersyukur atas apa yang sudah aku lalui sejauh ini. Aku bahagia.
Pergilah kenangan bersamaan dengan waktu yang berlalu. 

Monday, 12 December 2016

Tak Lagi Sama

Kring...kring...kring...alarm di ponsel ku berbunyi. Dengan mata yang masih mengantuk aku usahakan membukanya secara perlahan dan segera bergegas untuk mandi. Selesai mandi aku mengenakan seragamku dan bersiap-siap. 

"Hehh buruan udah belum ? udah telat tau", terdengar suara keras dari luar pintu kamarku diiringi dengan suara ketukan pintu.
"Iya bentar lagi", sautku dengan suara yang tak kalah kerasnya.
Setelah menyisir rambutku, ku lihat jam di dinding kamarku, oh tidak ! jangan sampai telat lagi.
Aku segera mengambil tas ku lalu dengan terburu-buru pergi keluar rumah. 

"Titt...tittt...tittt..." (suara klakson motor), "cepetan bisa gak si ? udah telat ini. Lelet banget. Tinggal ajalah" terdengar lagi suara menyebalkan, dari luar rumah sambil berkali-kali memainkan klakson motor yang sangat mengganggu pendengaranku.
"Iya bentar coba, sabar!" kataku dengan nada yang agak kesal. Akhirnya aku menaiki motor dan kami pun berangkat.

Yaa panggil aku Lili. Wanita remaja usia 17 tahun yang sedang menempuh pendidikan di bangku SMA kelas XII. Dan untuk manusia menyebalkan tadi, panggil saja dia Pio. Ya, dia adalah adik lelakiku yang berusia 15 tahun. Saudara kandung satu-satunya yang aku miliki. Kami bersekolah di sekolah yang sama. Pio duduk di bangku kelas X. 
Karena kami satu sekolah makanya kami biasa berangkat bersama, menaiki motor dan karena dia lelaki, jadi dialah yang mengendarai motor sedangkan aku hanya tinggal duduk manis sambil menunggu sampai di sekolah. 

"Pelan dikit bisa ga si ? jangan balap balap coba! jalannya rusak!" kataku dengan kesal.
"Udah diem aja! kita udah telat" saut Pio sambil menoleh sebentar ke arahku kemudian menancapkan gas dengan kecepatan 100 km/jam.
Oh Tuhan, hampir setiap berangkat ke sekolah jantungku selalu berdegup kencang, adikku itu masih muda, masih labil dalam membawa motor, wajar saja aku selalu bawel jika di bonceng olehnya.

Hari ini hari senin, bel masuk sekolah dipercepat dikarenakan ada upacara bendera. Ya sesuai dengan prediksiku, kami berdua terlambat. Kami tidak dibolehkan masuk oleh karena itu kami mengikuti upacara bendera dari luar gerbang sekolah. Lapangan upacara berada di depan. 
Selesai upacara bendera, kami dibolehkan masuk dan tentu saja kami di hukum karena terlambat. Kami dan teman-teman lain yang terlambat mendapat hukuman berlari 5 keliling lapangan. Sangat melelahkan.

Kami sudah pulang dari sekolah dan sudah berada di rumah. Seperti biasa, aku, Pio serta ayah ibu ku makan siang bersama di rumah. Dan seperti biasa pula Pio makan dengan sangat lahap. Aku tidak mengerti sebenarnya dia itu manusia spesies apa ? Dia makan sangat banyak, bisa menambah sampai 2 piring penuh, walaupun begitu tetap saja tubuhnya tidak berisi. Dia tetap kurus. Oh iya yang berisi hanya perutnya saja, perut Pio buncit. Kadang aku suka kesal melihat kebiasaan makannya yang sangat lahap dan rakus, seperti tidak makan seminggu saja.

Selesai makan siang, Pio biasa pergi ke kamarnya di loteng rumah untuk bermain game. Khususnya game online. Dia betah berjam-jam bahkan seharian tidak keluar kamarnya hanya karena asyik bermain game. Parahnya, kalau dia tidak diingatkan untuk makan dan mandi, dia tidak akan melakukannya. Aku sebal harus selalu mengingatkan dia, naik turun loteng namun dia hanya berkata ia, nanti, bentar lagi. Sampai pernah suatu hari karena aku sudah terlalu kesal naik turun loteng, Ayahlah yang menyuruhnya untuk turun dan makan. Pio segan terhadap Ayah oleh karena itu jika Ayah yang menyuruhnya untuk turun, dia pasti cepat turun.

Di malam hari kami biasa menonton tv bersama di ruang keluarga. Kadang, jika Pio turun dari loteng untuk menonton tv, dia tidak langsung duduk dan menonton, tapi dia pergi ke dapur dan membuka lemari es, mencari cemilan. Setiap Pio melakukan sesuatu pasti selalu berisik, seperti turun dari tangga loteng, menutup lemari es dengan kencang, bermain game, dan lainnya. Terkadang aku iri padanya, dia itu lelaki banyak makan dan ngemil tapi badannya tetap kurus dan tinggi, sedangkan aku perempuan makanku saja kadang aku kurangi porsinya dan menahan diri untuk tidak ngemil tapi badanku berisi dan pendek. Huft.
Ketika menonton tv bersama, aku dan Pio seringkali ribut karena ganti ganti channel tv. Sudah menjadi tradisi siapa yang memegang remote tv, dia yang mengatur acara apa yang di tonton.

Di saat ada waktu luang di malam hari, aku biasa chating dengan teman-temanku dan selalu saja mereka tidak pernah lupa membahas tentang adik ku. Teman-temanku menyukai Pio, kata mereka Pio cakep, manis, tinggi, kalem, dll. Pernah di sekolah ketika Pio mengantarkan laptop ke kelasku, teman-temanku menggodainya. Kata mereka, lucu melihat ekspresi Pio yang kalem tapi ada malu-malunya. Bahkan yang lebih parah, salah satu temanku minta di comblangkan dengan Pio, oh God, Pio terlalu berondong untuk kalian teman-teman. Entahlah, mungkin Pio memiliki daya karisma yang tidak bisa aku lihat, karena bagiku Pio tidak begitu menarik seperti yang teman-temanku katakan.

Waktu terus berputar. Kini aku sudah tamat sekolah. Tidak ada lagi kegiatan berangkat sekolah dengan Pio. Sekarang Pio berangkat sekolah sendirian.

Sekarang kegiatan Pio di malam hari adalah belajar karena ia sedang menghadapi Ujian Akhir Semester.
Pio menanyakan soal matematika yang rumit padaku, jujur saja aku tidak menyukai matematika namun aku tetap berusaha menyelesaikan soal itu bersama Pio. Kami saling berdebat tentang rumus yang digunakan. Dan pada akhirnya, Pio lah yang mampu menjawab sendiri soal itu. Pio adalah anak yang cerdas. Dia mampu menyelesaikan soal matematika dengan caranya sendiri dan jawabannya benar. Aku sebagai kakak merasa malu karena kalah saing otak dengannya.
Ketika selesai membahas soal matematika itu, Pio tiba-tiba menanyakan tentang kuliah. Dia bertanya padaku "Li, kamu nanti kuliah jurusan apa ?", jawabku "pendidikan bahasa Inggris".
"Ohh, kalau pendidikan matematika ada ga sih ?" saut Pio kepadaku. Lalu kataku "Ada. Kamu nanti mau kuliah tah ?", dengan wajah polosnya ia menjawab, "Iya, aku nanti mau kuliah jurusan matematika biar jadi orang sukses atau profesor".
Entah perasaan apa yang aku rasakan setelah melihat wajahnya dan keseriusannya menjawab pertanyaanku, aku seperti tercambuk. Aku agak ragu jika dia mampu berkuliah nanti, karena untuk menguliahkan dua orang, aku rasa sulit bagi orang tua ku karena keadaan ekonomi kami yang pas-pasan. Dari saat itu, aku memiliki tujuan untuk adikku Pio yaitu aku harus mampu menguliahkan adikku dengan uangku sendiri.

Kring...kring...kring, alarm ponselku berbunyi. Dengan mata masih mengantuk aku membuka mataku lalu tertidur lagi. Suara berisik mengganggu tidurku, itu pasti Pio yang sedang bersiap-siap ke sekolah. Pintu kamarku terbuka, terlihat samar olehku Pio sedang mencari kunci motor di dekat tv. Aku menutup mataku dan tidur lagi.

***
Kring...kring...kring, alarm ponselku berbunyi. Aku segera bergegas bangun dan merapihkan tempat tidurku. Hari ini aku harus ke kampus untuk pendaftaran mahasiswa baru.  Tak lagi sama, aku tidak lagi merasa kesal karena suara keras dan suara klakson dari Pio.
Aku mengendarai motor untuk sampai ke kampusku. Tak lagi sama, kini aku mengendarai motor sendiri tanpa Pio.
Aku menyetir motor dengan kecepatan sedang. Tak lagi sama, kini jantungku tidak berdegup kencang.
Aku menyetir motor melewati jalan rusak yang biasa aku  dan Pio lewati ketika berangkat sekolah dulu. Tak lagi sama, tidak ada Pio yang aku baweli.
Aku melewati sekolahku. Tak lagi sama, aku dan Pio tidak di hukum karena keterlambatan kami.

Setelah selesai mengurus pendaftaran kuliahku, aku langsung pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, aku makan siang bersama dengan keluargaku. Tak lagi sama, aku tidak lagi merasa kesal karena cara makan Pio yang rakus.
Selesai makan siang, aku disuruh ibu menaruh pakaian di loteng. Tak lagi sama, tidak ada suara gaduh Pio ketika memainkan game.

Ketika malam hari tiba, aku dan keluargaku menonton tv bersama. Tak lagi sama, tidak ada suara gaduh Pio turun dari loteng dan juga tidak ada suara gaduh Pio membuka lemari es mencari cemilan.
Aku chating dengan teman-temanku. Tak lagi sama, mereka tidak membicarakan Pio lagi.
Aku merasa bosan menonton tv dan chating, aku pergi ke kamarku untuk tidur. Sebelum tidur, aku mengisi daya ponsel ku yang dimana terminal untuk mengisi daya ponselku berada di dekat rak buku. Aku sekilas melihat buku paket matematika SMA ku. Tak lagi sama, tak ada lagi yang membahas soal matematika kepadaku.

Yaa semuanya tak lagi sama ! Aku tidak tahan lagi. Aku menangis di kamarku. Air mataku terus mengalir tak terbendung lagi. Ada perasaan sesak disini, di lubuk hati ku yang paling dalam.
Tak lagi sama ! Pio telah tiada ! Ia meninggalkan aku sendirian !
Semua kebiasaan yang ia lakukan, semua hal yang dulu menyebalkan bagiku, kini aku rindu itu semua. Aku rindu suara menyebalkan Pio di pagi hari, aku rindu ia bonceng mengendarai motor, aku rindu jantungku yang berdegup kencang ketika Pio menyetir dengan kecepatan tinggi, aku rindu melihat cara makannya yang rakus, aku rindu melihatnya turun dari loteng menuju ke dapur mencari cemilan, aku rindu memanggil namanya, aku rindu melihat badannya yang kurus dan tinggi, aku rindu semua tentangnya !
Dengan seketika, semua ingatan dan kenangan tentangnya ada di pikiranku. Sesak, teramat sesak.
Tak ada lagi kulihat raut wajah semangatnya untuk kuliah menjadi orang sukses.

Teringat tentang kematiannya. Ia meninggal ketika pulang dari sekolah. Ia bertabrakan dengan pengendara motor lain. Pada akhirnya, kelabilan Pio dalam mengendarai motor harus merenggut nyawanya.
Ternyata, penglihatan samar ku melihat Pio pada waktu itu mencari kunci motor di dekat tv adalah penglihatan kepergianya untuk selama-lamanya.

Adikku Pio, kamulah rasa kehilangan dan patah semangat tersakit yang pernah aku alami seumur hidupku. Aku teringat senyumanmu, teman-temanku memang benar, kau itu manis.

Tak lagi sama, kini aku terus merindukanmu.

Jilat Ludah Sendiri. ENAK ?

"Aku sudah pernah merasakan kepahitan dalam hidup. Dan yang paling pahit adalah berharap kepada manusia."- Ali bin Abi Tholib

"Aku gak bisa percaya sama orang."- Rini Yanti Sianturi

Quotes diatas tercipta dari orang-orang yang pernah atau sering dikhianati oleh orang lain, entah itu dari kata-katanya ataupun perilakunya.
Memang manusia hanya bisa berencana, mudah berucap, tanpa memikirkan kemampuan diri sendiri apakah bisa ia memenuhi apa yang telah ia rencanakan atau ucapkan. Banyak manusia diluar sana mengucapkan janji atau kata-kata manis dengan level tak terhingga. That's bigger bullshit, percayalah.
Manusia itu suasana hatinya berubah ubah, kadang bisa seperti anak kucing yang begitu menggemaskan, kadang pula bisa seperti singa yang siap menerkam kapanpun. Oleh karena itu, untuk mempercayai seseorang lihatlah dari karakternya sehari-hari, kenali betul tentang kepribadiannya, berikan daya ukur untuk karakter dan kepribadiannya apakah ia bisa dipercaya atau tidak.

Dan untuk orang-orang yang merasa dirinya terasingkan karena dianggap remeh perkataan atau sikapnya, tolong berpikirlah tentang sebab-akibat. Tanyakan pada diri sendiri "mengapa dia tidak mempercayaiku ?", "apa yang membuat aku tidak bisa dipercaya ?", "bagaimana agar aku bisa dipercaya ?". Jangan pernah gengsi untuk intropeksi diri sendiri, justru dengan intropeksi diri sendiri, kita akan tahu pribadi kita yang sebenarnya, kita mampu mengendalikan emosi, perkataan, perbuatan yang akan kita lakukan. Pahamilah, harga diri manusia bukan dilihat dari kekayaan, status pendidikan, ataupun nama keluarga yang terpandang. Harga diri manusia dilihat dari perkataan terlebih lagi sikapnya. Coba pikirkan, ada manusia yang terlahir di keluarga kaya dan terpandang namun ia sering menghina orang lain, berbohong, membuat keributan, kasar, egois, dan ada manusia yang terlahir di keluarga sederhana namun ia jujur, pekerja keras, dan bisa menghargai orang lain, manakah yang anda pilih ?
Kekayaan duniawi itu seringkali menyesatkan, namun kepribadian yang baik mampu membawa kita kepada kekayaan yang sebenarnya, yaitu kedamaian dalam hidup.

Yang membuat rasa terkhianati dan dibohongi menjadi sangat menyakitkan adalah karena rasa terkhianati dan dibohongi itu didapatkan dari orang yang kita sayangi dan kita percaya. Hal itulah yang membuat hati kita menjadi sangat rapuh dan kadang sulit untuk mempercayai seseorang lagi. Layaknya kita diberi makan untuk hidup, diberi rasa nyaman, diperhatikan, tapi hanya untuk tujuan dibunuh. Sungguh menyesakkan hati. 
Percayalah, manusia memberikan kepercayaan karena melihat perilakunya bukan perkataannya. Manusia berkata-kata semanis apapun namun apabila perilakunya pahit akan sulit dipercaya oleh orang lain. Jadilah manusia berkelas dari kata-kata yang bisa dipertanggungjawabkan, dan perilaku yang bisa dicontoh.

Hidup itu memang harus ditertawakan. Lucu rasanya mengingat yang dulu berdekatan layaknya urat dan nadi namun sekarang berjauhan layaknya bumi dan pluto. Terlebih lucu lagi melihat kelakuan dia yang dulunya terlihat tidak menyukai seseorang namun sekarang dia menjadikan orang itu istimewa di hati dan hidupnya. Rasanya ingin sekali tertawa di hadapannya dan menceritakan kelakuannya yang patut untuk ditertawakan. HAHA. Layaknya melihat drama istimewa dan sangat membolak-balikan suasana hati. Ya itulah manusia yang tidak bisa di percaya, semanis apapun perkataannya. Kadang merasa heran atas ucapan yang dulu ia katakan namun sekarang kenyataannya berbanding terbalik dengan kata-katanya, layaknya meludah kemudian menjilat ludah sendiri, ENAK ?
HAHA. 







*Pelajaran penting apabila dikhianati seseorang, jangan menaruh harapan pada mereka yang tidak bisa dipercaya. Jangan terus menggenggam pisau yang membuat telapak tanganmu terluka, lebih baik lepaskan pisau tersebut kemudian berusaha mengobati luka yang ada. Tidak harus sembuh sekarang, namun pasti suatu hari nanti. 

Sunday, 4 December 2016

MASALAH ?

Tak ada yang abadi di dunia ini, termasuk kebahagiaan.
Semua ada masanya. Sakit hati, tertawa, menangis, kesal, cemburu, lelah, semua itu berubah ubah mengikuti waktu.
Bertambah usia membuat masalah hidup bertambah banyak. Dari masalah keluarga, pertemanan, percintaan, pendidikan, karir. 

Tak ada masalah yang tidak dapat diselesaikan, begitu kata orang banyak. Ya mungkin seperti kata-kata tadi, semua ada masanya. Yang membuat masalah menjadi berlarut-larut adalah kita sendiri, kita kendali akan semua yang terjadi dalam hidup kita. Kunci dari setiap permasalahan yang ada yaitu mencari penyelesaian, apa yang kita bisa perbuat untuk menyelesaikannya, jangan berdiam diri dan pasrah, itu hanya membuat pikiran dan hati menjadi rumit.

Terkadang sulit ingin berbagi masalah yang kita rasakan kepada orang lain, ya karena manusia bukan makhluk sempurna, manusia sulit untuk memahami apa yang dialami oranglain, apalagi jika masalah tersebut belum pernah dialaminya.
Tak apa jika tak mau berbagi masalah dengan orang lain, namun kepada Tuhan ? Apa yang tidak mungkin bagi Dia. 
Tuhanlah yang memberi kita masalah, ada 2 pilihan yang Ia berikan. Pertama, masalah membuat kita menjadi naik kelas atau yang kedua masalah menjadikan kita jatuh lebih dalam. Ya semua itu pilihan kita, kita yang tentukan apa yang bisa kita lakukan untuk hidup kita sendiri.
Berikan waktu sendiri, cari tempat sepi, berusaha memahami apa akar dari masalah, yakin bahwa kita mampu melewati segala percobaan di dunia ini, menangislah sepuas-puasnya di tempat sepi, berdoa kepadaNya, minta Dia untuk membantu menyelesaikan masalah dan memberi kekuatan pada kita.

Lahir sendiri, hadapi sendiri, berjuang sendiri, jadilah manusia yang mampu mengontrol apa yang terjadi. Jangan menggenggam luka, itu hanya membuatmu menjadi sakit, lepaskan luka itu perlahan-lahan, biarkan luka itu pergi dengan sendirinya dan sembuh sendiri.

Hidup di dalam tekanan memang sulit, namun jika sudah terjadi ya hadapi saja. Jangan merengek, itu tidak akan membuat tekanan menjadi hilang.

Tuesday, 6 September 2016

SIAL.


Aku melihat sosok kegelapan.
Gelap. Hitam. Pekat.
Dia menghampiriku. Aku menutup mataku, berharap sosok itu menghilang. Ku beranikan diri membuka mataku kembali. Oh tidak dia masih menghampiriku. 

Aku menutup mataku lagi, kemudian membalikkan badanku, aku berlari. Aku berlari secepat yang aku bisa. Jantungku berdegup kencang, sangat kencang. Tetesan keringat mulai berkucuran. Tak ku hiraukan, aku terus berlari. Berlari menghindari sosok gelap itu. Menghilanglah, pergilah, enyahlah, segala harapan itu aku sebutkan dalam hatiku. Sambil berlari aku menoleh ke belakang, memastikan sosok gelap itu sudah menghilang atau belum. Sial, dia masih menghampiriku, mengejarku.

Ku percepat ayunan kakiku dalam berlari. Dari kejauhan aku melihat pintu yang terbuka. Ada cahaya yang terang disana. Pikiranku mulai tenang, itu mungkin adalah jalan keluar. Lagi, ku percepat ayunan kakiku. Tidak. Aku mohon. Jangan. Ayo lanjutkan. Tidak. Aku terjatuh. Kakiku tidak sanggup berlari sekencang itu. Aku terluka, tanganku, kakiku, wajahku. Aku merengek kesakitan. Akupun diselimuti rasa takut yang semakin besar, sosok gelap itu pasti semakin dekat.

Aku kumpulkan seluruh energi yang masih ku miliki. Aku paksakan tubuh ini untuk bangkit berdiri. Aku pasti bisa. Oh Tuhan, betapa lemahnya diri ini. Aku tidak kuat menahan luka jatuh tadi, lututku terasa ngilu dan pedih. Ayolah, aku bisa lebih baik dari ini. Sebentar lagi, menuju pintu itu, dan semuanya selesai.

Yaa pintar, aku bisa berdiri. Ku paksakan luka ku agar menuruti kemauanku untuk bangkit dan terus berlari.
Aku masih bisa berlari, walaupun pincang. Tak apa, setidaknya aku masih terus mencoba. Aku menangis, ketakutan. Harapanku mulai pudar. Sosok gelap itu menertawai aku. Tuhan, beri aku kekuatan.

Baiklah, sedikit lagi. Sedikit lagi menuju pintu penuh cahaya itu. Aku terus berlari dengan memaksakan kakiku yang pincang. Dua meter lagi, satu meter lagi, dua langkah lagi menuju pintu cahaya. Yaa, aku berhasil. Kaki kananku memasuki pintu cahaya itu. Lega perasaanku.

Tapi apa ini ? Sosok itu meraih lenganku. Tidak, lepaskan ! Aku hempaskan genggamannya. Dengan cepat seluruh tubuhku memasuki pintu cahaya itu, akupun menutup pintu itu.
Selesai ? yaa, akhirnya selesai. Lega rasanya. Aku menghela nafas panjang. Terima kasih sosok gelap, atas luka dan perasaan takut yang kau berikan. Aku akan menjadi kuat setelah kejadian ini.

Suara tawa itu ku dengar lagi. Namun tak ada siapa - siapa disini. Aku berlari mencari darimana suara itu berasal. Bodoh, aku tidak memperhatikan langkahku dan tatapanku, aku terjatuh ke dalam jurang yang sangat gelap. Terasa sakit. Aku mati.

Tidak, ini aneh. Aku pikir aku sudah mati, namun aku masih bisa membuka kedua mataku. Perlahan lahan aku buka mataku. Sial, ternyata aku terjatuh dari tempat tidur dan aku melihat adikku sedang asik tertawa menonton film Boboi Boy.