Tuesday, 6 September 2016

SIAL.


Aku melihat sosok kegelapan.
Gelap. Hitam. Pekat.
Dia menghampiriku. Aku menutup mataku, berharap sosok itu menghilang. Ku beranikan diri membuka mataku kembali. Oh tidak dia masih menghampiriku. 

Aku menutup mataku lagi, kemudian membalikkan badanku, aku berlari. Aku berlari secepat yang aku bisa. Jantungku berdegup kencang, sangat kencang. Tetesan keringat mulai berkucuran. Tak ku hiraukan, aku terus berlari. Berlari menghindari sosok gelap itu. Menghilanglah, pergilah, enyahlah, segala harapan itu aku sebutkan dalam hatiku. Sambil berlari aku menoleh ke belakang, memastikan sosok gelap itu sudah menghilang atau belum. Sial, dia masih menghampiriku, mengejarku.

Ku percepat ayunan kakiku dalam berlari. Dari kejauhan aku melihat pintu yang terbuka. Ada cahaya yang terang disana. Pikiranku mulai tenang, itu mungkin adalah jalan keluar. Lagi, ku percepat ayunan kakiku. Tidak. Aku mohon. Jangan. Ayo lanjutkan. Tidak. Aku terjatuh. Kakiku tidak sanggup berlari sekencang itu. Aku terluka, tanganku, kakiku, wajahku. Aku merengek kesakitan. Akupun diselimuti rasa takut yang semakin besar, sosok gelap itu pasti semakin dekat.

Aku kumpulkan seluruh energi yang masih ku miliki. Aku paksakan tubuh ini untuk bangkit berdiri. Aku pasti bisa. Oh Tuhan, betapa lemahnya diri ini. Aku tidak kuat menahan luka jatuh tadi, lututku terasa ngilu dan pedih. Ayolah, aku bisa lebih baik dari ini. Sebentar lagi, menuju pintu itu, dan semuanya selesai.

Yaa pintar, aku bisa berdiri. Ku paksakan luka ku agar menuruti kemauanku untuk bangkit dan terus berlari.
Aku masih bisa berlari, walaupun pincang. Tak apa, setidaknya aku masih terus mencoba. Aku menangis, ketakutan. Harapanku mulai pudar. Sosok gelap itu menertawai aku. Tuhan, beri aku kekuatan.

Baiklah, sedikit lagi. Sedikit lagi menuju pintu penuh cahaya itu. Aku terus berlari dengan memaksakan kakiku yang pincang. Dua meter lagi, satu meter lagi, dua langkah lagi menuju pintu cahaya. Yaa, aku berhasil. Kaki kananku memasuki pintu cahaya itu. Lega perasaanku.

Tapi apa ini ? Sosok itu meraih lenganku. Tidak, lepaskan ! Aku hempaskan genggamannya. Dengan cepat seluruh tubuhku memasuki pintu cahaya itu, akupun menutup pintu itu.
Selesai ? yaa, akhirnya selesai. Lega rasanya. Aku menghela nafas panjang. Terima kasih sosok gelap, atas luka dan perasaan takut yang kau berikan. Aku akan menjadi kuat setelah kejadian ini.

Suara tawa itu ku dengar lagi. Namun tak ada siapa - siapa disini. Aku berlari mencari darimana suara itu berasal. Bodoh, aku tidak memperhatikan langkahku dan tatapanku, aku terjatuh ke dalam jurang yang sangat gelap. Terasa sakit. Aku mati.

Tidak, ini aneh. Aku pikir aku sudah mati, namun aku masih bisa membuka kedua mataku. Perlahan lahan aku buka mataku. Sial, ternyata aku terjatuh dari tempat tidur dan aku melihat adikku sedang asik tertawa menonton film Boboi Boy.

No comments:

Post a Comment