Kring...kring...kring...alarm di ponsel ku berbunyi. Dengan mata yang masih mengantuk aku usahakan membukanya secara perlahan dan segera bergegas untuk mandi. Selesai mandi aku mengenakan seragamku dan bersiap-siap.
"Hehh buruan udah belum ? udah telat tau", terdengar suara keras dari luar pintu kamarku diiringi dengan suara ketukan pintu.
"Iya bentar lagi", sautku dengan suara yang tak kalah kerasnya.
Setelah menyisir rambutku, ku lihat jam di dinding kamarku, oh tidak ! jangan sampai telat lagi.
Aku segera mengambil tas ku lalu dengan terburu-buru pergi keluar rumah.
"Titt...tittt...tittt..." (suara klakson motor), "cepetan bisa gak si ? udah telat ini. Lelet banget. Tinggal ajalah" terdengar lagi suara menyebalkan, dari luar rumah sambil berkali-kali memainkan klakson motor yang sangat mengganggu pendengaranku.
"Iya bentar coba, sabar!" kataku dengan nada yang agak kesal. Akhirnya aku menaiki motor dan kami pun berangkat.
Yaa panggil aku Lili. Wanita remaja usia 17 tahun yang sedang menempuh pendidikan di bangku SMA kelas XII. Dan untuk manusia menyebalkan tadi, panggil saja dia Pio. Ya, dia adalah adik lelakiku yang berusia 15 tahun. Saudara kandung satu-satunya yang aku miliki. Kami bersekolah di sekolah yang sama. Pio duduk di bangku kelas X.
Karena kami satu sekolah makanya kami biasa berangkat bersama, menaiki motor dan karena dia lelaki, jadi dialah yang mengendarai motor sedangkan aku hanya tinggal duduk manis sambil menunggu sampai di sekolah.
"Pelan dikit bisa ga si ? jangan balap balap coba! jalannya rusak!" kataku dengan kesal.
"Udah diem aja! kita udah telat" saut Pio sambil menoleh sebentar ke arahku kemudian menancapkan gas dengan kecepatan 100 km/jam.
Oh Tuhan, hampir setiap berangkat ke sekolah jantungku selalu berdegup kencang, adikku itu masih muda, masih labil dalam membawa motor, wajar saja aku selalu bawel jika di bonceng olehnya.
Hari ini hari senin, bel masuk sekolah dipercepat dikarenakan ada upacara bendera. Ya sesuai dengan prediksiku, kami berdua terlambat. Kami tidak dibolehkan masuk oleh karena itu kami mengikuti upacara bendera dari luar gerbang sekolah. Lapangan upacara berada di depan.
Selesai upacara bendera, kami dibolehkan masuk dan tentu saja kami di hukum karena terlambat. Kami dan teman-teman lain yang terlambat mendapat hukuman berlari 5 keliling lapangan. Sangat melelahkan.
Kami sudah pulang dari sekolah dan sudah berada di rumah. Seperti biasa, aku, Pio serta ayah ibu ku makan siang bersama di rumah. Dan seperti biasa pula Pio makan dengan sangat lahap. Aku tidak mengerti sebenarnya dia itu manusia spesies apa ? Dia makan sangat banyak, bisa menambah sampai 2 piring penuh, walaupun begitu tetap saja tubuhnya tidak berisi. Dia tetap kurus. Oh iya yang berisi hanya perutnya saja, perut Pio buncit. Kadang aku suka kesal melihat kebiasaan makannya yang sangat lahap dan rakus, seperti tidak makan seminggu saja.
Selesai makan siang, Pio biasa pergi ke kamarnya di loteng rumah untuk bermain game. Khususnya game online. Dia betah berjam-jam bahkan seharian tidak keluar kamarnya hanya karena asyik bermain game. Parahnya, kalau dia tidak diingatkan untuk makan dan mandi, dia tidak akan melakukannya. Aku sebal harus selalu mengingatkan dia, naik turun loteng namun dia hanya berkata ia, nanti, bentar lagi. Sampai pernah suatu hari karena aku sudah terlalu kesal naik turun loteng, Ayahlah yang menyuruhnya untuk turun dan makan. Pio segan terhadap Ayah oleh karena itu jika Ayah yang menyuruhnya untuk turun, dia pasti cepat turun.
Di malam hari kami biasa menonton tv bersama di ruang keluarga. Kadang, jika Pio turun dari loteng untuk menonton tv, dia tidak langsung duduk dan menonton, tapi dia pergi ke dapur dan membuka lemari es, mencari cemilan. Setiap Pio melakukan sesuatu pasti selalu berisik, seperti turun dari tangga loteng, menutup lemari es dengan kencang, bermain game, dan lainnya. Terkadang aku iri padanya, dia itu lelaki banyak makan dan ngemil tapi badannya tetap kurus dan tinggi, sedangkan aku perempuan makanku saja kadang aku kurangi porsinya dan menahan diri untuk tidak ngemil tapi badanku berisi dan pendek. Huft.
Ketika menonton tv bersama, aku dan Pio seringkali ribut karena ganti ganti channel tv. Sudah menjadi tradisi siapa yang memegang remote tv, dia yang mengatur acara apa yang di tonton.
Di saat ada waktu luang di malam hari, aku biasa chating dengan teman-temanku dan selalu saja mereka tidak pernah lupa membahas tentang adik ku. Teman-temanku menyukai Pio, kata mereka Pio cakep, manis, tinggi, kalem, dll. Pernah di sekolah ketika Pio mengantarkan laptop ke kelasku, teman-temanku menggodainya. Kata mereka, lucu melihat ekspresi Pio yang kalem tapi ada malu-malunya. Bahkan yang lebih parah, salah satu temanku minta di comblangkan dengan Pio, oh God, Pio terlalu berondong untuk kalian teman-teman. Entahlah, mungkin Pio memiliki daya karisma yang tidak bisa aku lihat, karena bagiku Pio tidak begitu menarik seperti yang teman-temanku katakan.
Waktu terus berputar. Kini aku sudah tamat sekolah. Tidak ada lagi kegiatan berangkat sekolah dengan Pio. Sekarang Pio berangkat sekolah sendirian.
Sekarang kegiatan Pio di malam hari adalah belajar karena ia sedang menghadapi Ujian Akhir Semester.
Pio menanyakan soal matematika yang rumit padaku, jujur saja aku tidak menyukai matematika namun aku tetap berusaha menyelesaikan soal itu bersama Pio. Kami saling berdebat tentang rumus yang digunakan. Dan pada akhirnya, Pio lah yang mampu menjawab sendiri soal itu. Pio adalah anak yang cerdas. Dia mampu menyelesaikan soal matematika dengan caranya sendiri dan jawabannya benar. Aku sebagai kakak merasa malu karena kalah saing otak dengannya.
Ketika selesai membahas soal matematika itu, Pio tiba-tiba menanyakan tentang kuliah. Dia bertanya padaku "Li, kamu nanti kuliah jurusan apa ?", jawabku "pendidikan bahasa Inggris".
"Ohh, kalau pendidikan matematika ada ga sih ?" saut Pio kepadaku. Lalu kataku "Ada. Kamu nanti mau kuliah tah ?", dengan wajah polosnya ia menjawab, "Iya, aku nanti mau kuliah jurusan matematika biar jadi orang sukses atau profesor".
Entah perasaan apa yang aku rasakan setelah melihat wajahnya dan keseriusannya menjawab pertanyaanku, aku seperti tercambuk. Aku agak ragu jika dia mampu berkuliah nanti, karena untuk menguliahkan dua orang, aku rasa sulit bagi orang tua ku karena keadaan ekonomi kami yang pas-pasan. Dari saat itu, aku memiliki tujuan untuk adikku Pio yaitu aku harus mampu menguliahkan adikku dengan uangku sendiri.
Kring...kring...kring, alarm ponselku berbunyi. Dengan mata masih mengantuk aku membuka mataku lalu tertidur lagi. Suara berisik mengganggu tidurku, itu pasti Pio yang sedang bersiap-siap ke sekolah. Pintu kamarku terbuka, terlihat samar olehku Pio sedang mencari kunci motor di dekat tv. Aku menutup mataku dan tidur lagi.
***
Kring...kring...kring, alarm ponselku berbunyi. Aku segera bergegas bangun dan merapihkan tempat tidurku. Hari ini aku harus ke kampus untuk pendaftaran mahasiswa baru. Tak lagi sama, aku tidak lagi merasa kesal karena suara keras dan suara klakson dari Pio.
Aku mengendarai motor untuk sampai ke kampusku. Tak lagi sama, kini aku mengendarai motor sendiri tanpa Pio.
Aku menyetir motor dengan kecepatan sedang. Tak lagi sama, kini jantungku tidak berdegup kencang.
Aku menyetir motor melewati jalan rusak yang biasa aku dan Pio lewati ketika berangkat sekolah dulu. Tak lagi sama, tidak ada Pio yang aku baweli.
Aku melewati sekolahku. Tak lagi sama, aku dan Pio tidak di hukum karena keterlambatan kami.
Setelah selesai mengurus pendaftaran kuliahku, aku langsung pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, aku makan siang bersama dengan keluargaku. Tak lagi sama, aku tidak lagi merasa kesal karena cara makan Pio yang rakus.
Selesai makan siang, aku disuruh ibu menaruh pakaian di loteng. Tak lagi sama, tidak ada suara gaduh Pio ketika memainkan game.
Ketika malam hari tiba, aku dan keluargaku menonton tv bersama. Tak lagi sama, tidak ada suara gaduh Pio turun dari loteng dan juga tidak ada suara gaduh Pio membuka lemari es mencari cemilan.
Aku chating dengan teman-temanku. Tak lagi sama, mereka tidak membicarakan Pio lagi.
Aku merasa bosan menonton tv dan chating, aku pergi ke kamarku untuk tidur. Sebelum tidur, aku mengisi daya ponsel ku yang dimana terminal untuk mengisi daya ponselku berada di dekat rak buku. Aku sekilas melihat buku paket matematika SMA ku. Tak lagi sama, tak ada lagi yang membahas soal matematika kepadaku.
Yaa semuanya tak lagi sama ! Aku tidak tahan lagi. Aku menangis di kamarku. Air mataku terus mengalir tak terbendung lagi. Ada perasaan sesak disini, di lubuk hati ku yang paling dalam.
Tak lagi sama ! Pio telah tiada ! Ia meninggalkan aku sendirian !
Semua kebiasaan yang ia lakukan, semua hal yang dulu menyebalkan bagiku, kini aku rindu itu semua. Aku rindu suara menyebalkan Pio di pagi hari, aku rindu ia bonceng mengendarai motor, aku rindu jantungku yang berdegup kencang ketika Pio menyetir dengan kecepatan tinggi, aku rindu melihat cara makannya yang rakus, aku rindu melihatnya turun dari loteng menuju ke dapur mencari cemilan, aku rindu memanggil namanya, aku rindu melihat badannya yang kurus dan tinggi, aku rindu semua tentangnya !
Dengan seketika, semua ingatan dan kenangan tentangnya ada di pikiranku. Sesak, teramat sesak.
Tak ada lagi kulihat raut wajah semangatnya untuk kuliah menjadi orang sukses.
Teringat tentang kematiannya. Ia meninggal ketika pulang dari sekolah. Ia bertabrakan dengan pengendara motor lain. Pada akhirnya, kelabilan Pio dalam mengendarai motor harus merenggut nyawanya.
Ternyata, penglihatan samar ku melihat Pio pada waktu itu mencari kunci motor di dekat tv adalah penglihatan kepergianya untuk selama-lamanya.
Adikku Pio, kamulah rasa kehilangan dan patah semangat tersakit yang pernah aku alami seumur hidupku. Aku teringat senyumanmu, teman-temanku memang benar, kau itu manis.
Tak lagi sama, kini aku terus merindukanmu.
Waktu terus berputar. Kini aku sudah tamat sekolah. Tidak ada lagi kegiatan berangkat sekolah dengan Pio. Sekarang Pio berangkat sekolah sendirian.
Sekarang kegiatan Pio di malam hari adalah belajar karena ia sedang menghadapi Ujian Akhir Semester.
Pio menanyakan soal matematika yang rumit padaku, jujur saja aku tidak menyukai matematika namun aku tetap berusaha menyelesaikan soal itu bersama Pio. Kami saling berdebat tentang rumus yang digunakan. Dan pada akhirnya, Pio lah yang mampu menjawab sendiri soal itu. Pio adalah anak yang cerdas. Dia mampu menyelesaikan soal matematika dengan caranya sendiri dan jawabannya benar. Aku sebagai kakak merasa malu karena kalah saing otak dengannya.
Ketika selesai membahas soal matematika itu, Pio tiba-tiba menanyakan tentang kuliah. Dia bertanya padaku "Li, kamu nanti kuliah jurusan apa ?", jawabku "pendidikan bahasa Inggris".
"Ohh, kalau pendidikan matematika ada ga sih ?" saut Pio kepadaku. Lalu kataku "Ada. Kamu nanti mau kuliah tah ?", dengan wajah polosnya ia menjawab, "Iya, aku nanti mau kuliah jurusan matematika biar jadi orang sukses atau profesor".
Entah perasaan apa yang aku rasakan setelah melihat wajahnya dan keseriusannya menjawab pertanyaanku, aku seperti tercambuk. Aku agak ragu jika dia mampu berkuliah nanti, karena untuk menguliahkan dua orang, aku rasa sulit bagi orang tua ku karena keadaan ekonomi kami yang pas-pasan. Dari saat itu, aku memiliki tujuan untuk adikku Pio yaitu aku harus mampu menguliahkan adikku dengan uangku sendiri.
Kring...kring...kring, alarm ponselku berbunyi. Dengan mata masih mengantuk aku membuka mataku lalu tertidur lagi. Suara berisik mengganggu tidurku, itu pasti Pio yang sedang bersiap-siap ke sekolah. Pintu kamarku terbuka, terlihat samar olehku Pio sedang mencari kunci motor di dekat tv. Aku menutup mataku dan tidur lagi.
***
Kring...kring...kring, alarm ponselku berbunyi. Aku segera bergegas bangun dan merapihkan tempat tidurku. Hari ini aku harus ke kampus untuk pendaftaran mahasiswa baru. Tak lagi sama, aku tidak lagi merasa kesal karena suara keras dan suara klakson dari Pio.
Aku mengendarai motor untuk sampai ke kampusku. Tak lagi sama, kini aku mengendarai motor sendiri tanpa Pio.
Aku menyetir motor dengan kecepatan sedang. Tak lagi sama, kini jantungku tidak berdegup kencang.
Aku menyetir motor melewati jalan rusak yang biasa aku dan Pio lewati ketika berangkat sekolah dulu. Tak lagi sama, tidak ada Pio yang aku baweli.
Aku melewati sekolahku. Tak lagi sama, aku dan Pio tidak di hukum karena keterlambatan kami.
Setelah selesai mengurus pendaftaran kuliahku, aku langsung pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, aku makan siang bersama dengan keluargaku. Tak lagi sama, aku tidak lagi merasa kesal karena cara makan Pio yang rakus.
Selesai makan siang, aku disuruh ibu menaruh pakaian di loteng. Tak lagi sama, tidak ada suara gaduh Pio ketika memainkan game.
Ketika malam hari tiba, aku dan keluargaku menonton tv bersama. Tak lagi sama, tidak ada suara gaduh Pio turun dari loteng dan juga tidak ada suara gaduh Pio membuka lemari es mencari cemilan.
Aku chating dengan teman-temanku. Tak lagi sama, mereka tidak membicarakan Pio lagi.
Aku merasa bosan menonton tv dan chating, aku pergi ke kamarku untuk tidur. Sebelum tidur, aku mengisi daya ponsel ku yang dimana terminal untuk mengisi daya ponselku berada di dekat rak buku. Aku sekilas melihat buku paket matematika SMA ku. Tak lagi sama, tak ada lagi yang membahas soal matematika kepadaku.
Yaa semuanya tak lagi sama ! Aku tidak tahan lagi. Aku menangis di kamarku. Air mataku terus mengalir tak terbendung lagi. Ada perasaan sesak disini, di lubuk hati ku yang paling dalam.
Tak lagi sama ! Pio telah tiada ! Ia meninggalkan aku sendirian !
Semua kebiasaan yang ia lakukan, semua hal yang dulu menyebalkan bagiku, kini aku rindu itu semua. Aku rindu suara menyebalkan Pio di pagi hari, aku rindu ia bonceng mengendarai motor, aku rindu jantungku yang berdegup kencang ketika Pio menyetir dengan kecepatan tinggi, aku rindu melihat cara makannya yang rakus, aku rindu melihatnya turun dari loteng menuju ke dapur mencari cemilan, aku rindu memanggil namanya, aku rindu melihat badannya yang kurus dan tinggi, aku rindu semua tentangnya !
Dengan seketika, semua ingatan dan kenangan tentangnya ada di pikiranku. Sesak, teramat sesak.
Tak ada lagi kulihat raut wajah semangatnya untuk kuliah menjadi orang sukses.
Teringat tentang kematiannya. Ia meninggal ketika pulang dari sekolah. Ia bertabrakan dengan pengendara motor lain. Pada akhirnya, kelabilan Pio dalam mengendarai motor harus merenggut nyawanya.
Ternyata, penglihatan samar ku melihat Pio pada waktu itu mencari kunci motor di dekat tv adalah penglihatan kepergianya untuk selama-lamanya.
Adikku Pio, kamulah rasa kehilangan dan patah semangat tersakit yang pernah aku alami seumur hidupku. Aku teringat senyumanmu, teman-temanku memang benar, kau itu manis.
Tak lagi sama, kini aku terus merindukanmu.
No comments:
Post a Comment