Pada hari dimana kita pertama kali bertemu. Aku berharap.
Selanjutnya, hari kedua kita bertemu. Aku menunggu.
Hari berlalu. Dan aku masih menunggu.
Menunggu hal yang tidak pasti. Kamu tahu ? Itu melelahkan.
Ada sedikit harapan disana. Aku mencoba.
Namun, kamu mengacuhkan aku. Aku menyerah. Aku kecewa.
Rasa yang menggebu-gebu itu perlahan menghilang, namun masih meninggalkan jejak yang memilukan.
Lucu mengingatnya kembali, hari dimana aku berharap, menunggu, mencoba, hingga pada akhirnya menyerah.
Aku kira kisah itu sudah berakhir, namun rupanya masih bersambung.
Kamu hadir kembali.
Cihh rupanya sama seperti pada waktu itu, kamu datang pada waktu yang tidak terduga.
Tak bisa ku pungkiri, perasaan senang menyelimuti ku. Kamu yang dulu membuatku menyerah kini hadir kembali.
"Apa maumu ?" Tanyaku dalam hati.
Rupanya hadirmu hanya ingin mengingatkan memori lama saja.
Kamu membuka sedikit demi sedikit harapan yang dulu pernah ada. Bodohnya aku, aku terluka lagi dengan bentuk luka yang sama. Yaa, luka pada waktu itu. Tidak ! Ini lebih perih dan menyakitkan.
Sudah ku putuskan untuk benar-benar melupakanmu.
Oh tidak ! Bukan ! Ternyata aku salah. Kamu hadir membawa kisah yang baru. Kamu menginginkan aku.
Kamu pikir aku merasa senang ? Tidak ! Kecewa ku sudah terlalu dalam.
Namun kau tetap menginginkanku. Kamu berusaha meyakinkan aku bahwa kamu benar-benar menginginkan aku.
Sial ! Aku luluh.
Baiklah, aku rasa aku kalah. Kamu menang.
Yaa, aku ingin bersamamu.
Sekarang kita bersama. Aku memasuki duniamu. Begitupun kamu, kamu memasuki duniaku.
Duniamu menarik. Sama hal nya denganmu, menarik.
Kamu memperlakukanku dengan baik. Aku menyukainya.
Beberapa waktu berlalu. Apa ini ? Kamu mengkhianati aku ! Aku mulai membencimu. Membenci duniamu.
Kamu tahu ? Aku terluka lagi.
Luka ini berbeda. Pengkhianatan ! Hal yang paling ku benci.
Kamu menawarkan obat tuk mengobati luka ku. Aku bingung. Apa benar yang kamu tawarkan itu obat ? Bukan racun ? Yang mampu membuat luka ku lebih sakit lagi dan sulit untuk ku sembuhkan.
Baiklah, ku putuskan untuk memberimu kesempatan mengobati luka ku.
Kamu benar, yang kamu tawarkan itu obat. Namun obat itu tidaklah manjur. Luka ku tidak sepenuhnya sembuh. Masih tersisa bekas goresan-goresan yang jika ku sentuh masih terasa menyakitkan.
Tak apalah, setidaknya kamu telah mencoba mengobatinya.
Hari demi hari, minggu demi minggu berlalu. Aku mulai merindukanmu apabila kita lama tidak bertemu.
Apalah dayaku, yang bisa ku lakukan jika aku merindukanmu hanyalah membayangkanmu dan berdoa kepada Yang Maha Kuasa agar kau baik-baik saja di kejauhan sana.
Aku tahu, akupun sering menggoreskan luka padamu. Maafkan aku.
Ada hal-hal yang sulit aku kendalikan. Emosiku salah satunya.
Emosiku seringkali membuatmu berpikir bahwa aku tidak menginginkanmu. Aku mohon, jangan berpikir seperti itu. Itu terasa menyakitkan bagiku apabila kamu tidak mempercayaiku. Aku menginginkanmu. Sungguh.
Untukmu, tetaplah sabar menghadapiku. Akupun disini berusaha. Berusaha untuk mengendalikan emosiku. Berusaha untuk membuatmu mengerti bahwa aku sangat menginginkanmu.
Apabila kamu mulai lelah terhadapku, aku mohon katakanlah sejujurnya padaku. Tidak usah takut. Aku tidak akan marah. Aku akan dengarkan semua keluhmu. Kita sama-sama perbaiki apa yang salah, bukan saling membuang lalu pergi mencari yang baru. Aku tidak mau seperti itu. Karena yang aku pelajari adalah pasangan yang terbaik itu bukan ditemukan melainkan dibentuk.
Aku ingin menjadi alasanmu untuk tersenyum dan merasa bahagia. Ketahuilah, aku benci melihatmu bersedih atau merasa kecewa.
Aku selalu berharap kebahagiaan selalu ada padamu.
Apa kamu tahu ? Bagiku kisah kita sungguh menarik, kita berdua tidak saling mencari satu sama lain melainkan saling menemukan.
Yaa, kisah kita ini masih akan terus berlanjut. Entah sampai kapan.
Oh yaa, ingat satu kalimat ini baik-baik. Kalimat yang benar-benar tulus. Hanya untukmu yaitu "Aku Menyayangimu". Percayalah.
No comments:
Post a Comment